<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Mungkin ahli bahasa dan ahli filsafat perlu memberikan pendapat apakah kalimat Pemerintahan SBY-JK berhasil menurunkan harga BBM itu sudah benar dan tepat adanya. Untuk mengetahui apakah kata-kata menurunkan harga itu tepat, kita dapat menilik harga BBM pada awal masa pemerintahan SBY-JK.
Sebelum SBY berkuasa harga premium Rp 2.400 per liter, solar Rp 2.100 per liter, minyak tanah Rp 700. Sekarang menjelang SBY lengser harga premium Rp 4.500 per liter, Solar Rp 4.500 per liter, sedangkan harga minyak tanah Rp 2.500 per liter. Apapun alasannya harga BBM di akhir masa pemerintahan SBY-JK masih jauh lebih tinggi dibanding harga dimasa pemerintahan sebelumnya.
Sehingga pemerintahan SBY-JK tidak bisa disebut berhasil menurunkan kenaikan BBM, lebih tepatnya kita disebut saja baru mampu mengurangi tingkat kenaikkan harga, alias gagal mempertahankan harga BBM
Saya kira hal yang wajar bila SBY mencari popularitas diakhir masa pemerintahannya. Hanya tatacara yang digunakan mesti elegan dan tetap mengedepankan moralitas bukan dengan melakukan klaim-klaim yang sifatnya kurang mendidik. Kalau harga BBM belum lebih rendah dari masa sebelum menjabat mbok jangan mengatakan mampu menurunkan.
Bila mencabut subsidi merupakan keharusan dalam kamus pemerintahan, maka SBY-JK bisa disebut berprestasi hanya apa bila subsidi dicabut namun tidak menimbulkan gejolak harga BBM yang diikuti harga-harga lain. Politik pencitraan SBY mengharuskan dia tampil seolah-olah pahlawan. Meskipun antrian pembeli minyak tanah terus memanjang, Gas Elpiji langka, SPBU sering kosong, jumlah orang frustasi meningkat, maka SBY tetap harus menjadi pahlawan..Entah pahlawan apa namanya?
Kalau dikatakan kenaikan harga BBM karena fluktuasi harga BBM dunia, maka semestinya ketika harga minyak dunia turun drastis,pemerintah kita juga harus mampu menurunkan harga BBM kita secara drastis seperti negara-negara lain yang mana BBM sudah kembali ke harga semula. Kenapa kalau menaikkan drastis, kalau turun dihemat-hemat. Itu artinya tidak konsisten.
Meskipun SBY-JK mampu memulihkan harga BBM kembali kepada harga awal, buat saya dia belum dapat disebut berprestasi, karena amal sholeh dalam berbagai program pemerintahannya tidak mampu memulihkan rasa keadilan masyarakat akibat cedera sosial yang dibuat SBY-JK dengan menaikkan harga BBM beberapa waktu lalu.
Apa yang dikatakan ‘penurunan’ harga BBM ini tidak terlalu berpengaruh. Hari ini nelayan-nelayan masih sulit membeli solar. Di Marunda misalnya, pemerintah belum menyediakan fasilitas pengisian bahan bakar khusus nelayan. Untuk membeli solar mereka menggunakan botol-botol aqua, karena tidak diizinkan menggunakan jerigen seperti dulu, serta tidak mungkin mereka membawa perahunya ke pom bensin.Kehidupan mereka pun bukan beranjak maju, namun bertambah terlilit dan terjepit oleh limbah dan harga BBM.
Oleh karena pemerintah dibentuk untuk melindungi rakyat yang paling rentan maka jika dirasa perlu menanggung beban subsidi, maka itu pun harus dilakukan dengan penuh perhitungan dan meminimalisir resiko bagi rakyat yang paling bawah. Jika orang lemah harus menanggung derita, maka orang-orang kaya di negeri ini pun harus mampu hidup sederhana, bukan menghambur-hamburkan harta dengan membiarkan kasus mega korupsi dan mega skandal diberbagai kehidupan negara.